cool hit counter

PDM Kota Pematangsiantar - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Pematangsiantar
.: Home > Sejarah

Homepage

SEJARAH MUHAMMADIYAH DI KOTA PEMATANGSIANTAR

SEJARAH MUHAMMADIYAH DI KOTA PEMATANGSIANTAR

 

A.    Latar Belakang

 

Ide pembaharuan Islam di Indonesia mulai nampak dengan berdirinya Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta pada tanggal 08 Zulhijjah 1330 bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 oleh KH Ahmad Dahlan. Ia adalah seorang yang mempunyai kemauan keras dalam mewujudkan cita-citanya untuk memberikan sumbangsihnya kepada bangsa dan negara Indonesia serta khususnya kaum muslimin. Hal ini terlihat jelas dari usahanya mendirikan Muhammadiyah sebagaigerakan pembaharuan Islam yang pertama berdiri di Indonesia. Ini tidak terlepas dari kepribadian beliau sebagaimana diungkapkan oleh Jainuri ( 1981 : 26 ) :

 

“Sikap dan pribadi Ahmad Dahlan merupakan dasar yang kuat dalam mebantu mewujudkan gagasan-gagasan pembaharuannya. Ia adalah seorang yang keras kemauan, pribadinya mencerminkan sebagai seorang yang sungguh-sungguh dan tak mengenal lelah dalam merealisir cita-cita”.

 

KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah sebagai upaya menyempurnakan pemikiran beliau dalam melaksanakan Islam dengan sebenar-benarnya. Hal ini ditambah lagi dengan pendalamannya terhadap makna yang terkandung dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 104 yang artinya, “ Dan hendaklah ada diantar kamu segolongan umat yang membawa kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

 

Sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan terlebih dahulu mempelajari tata organisasi. Hal ini terbukti dengan masuknya KH Ahmad Dahlan sebagai anggota Budi Utomo pada tahun 1909 dan diikuti dengan Sarekat Islam. Dari sinilah Ahmad Dahlan mempelajaritentang keorganisasian yang dianggap sebagai organisasi modern yang telah mempunyai tata susunan pengurus lengkap dan telah mempunyai tujuan.

 

Di kedua organisasi ini KH Ahmad Dahlan memangku jabatan sebagai penasehat dalam keagamaan. Ini dianggap sesuai dengan kedudukan beliau sebagai khatib Al-Amin di Yogyakarta. Dalam kedua organisasi ini KH Ahmad Dahlan memberikan ceramah-ceramah agama pada anggotanya. Disamping itu dalam memberikan ceramah beliau juga menyebarkan ide-ide pembaharuan. Namun demikian, KH Ahmad Dahlan menganggap kedua organisasi ini belum mampu memenuhi keinginan yang ia kehendaki dalam memajukan dakwah Islam. KH Ahmad Dahlan berhasrat ingin mendirikan suatu organisasi yang dapat menampung ide-ide yang selama ini ia pelajari baik diluar negeri ( Mekkah ) maupun buku-buku yang pernah ia baca. Salah satu tafsir yang paling melekat dalam hatinya untuk berpikir jauh kedepan tentang Islam adalah tafsir Al-Manar karangan Muhammad Abduh sebagaimana yang diungkapkan oleh Shamad Hamid (1984:60):

 

“Berkat isi Al-Manar yang berisi semangat kebangkitan umat dari kelemahandi samping ia sendiri merasa sadar menegnai kondisi umat Islam di Indonesia yang menyedihkan itu maka iapun kemudian mendirikan organisasi pembaruan Islam di Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan dan pengajaran yang lebih terkenal dengan pergerakan Muhammadiyah”.

 

Dilain pihak, dengan dorongan yang diberikan oleh teman-temannya dalam organisasi Budi Utomo untuk mendirikan suatu sekolah dengan tatanan organisasi rapi. Akhirnya memberikan ide bagi KH Ahmad Dahlan mendirikan Organisasi Muhammadiyah. Demikianlah Muhammadiyah didirikan yang merupakan suatu oerganisasi pembaharuan Islam yeng pertama berdiri di Indonesia.

 

Walaupun Muhammadiyah telah berdiri sejak tanggal 18 November 1912, namun pengesahan berdirinya Muhammadiyah baru dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 22 Agustus 1914 dengan surat keterangan Gouvernement Besluit no.81 tertanggal 22 Agustus 1914, itupun hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta. Pengeluaran surat ketetapan ini tidak terlepas dari rekomendasi organisasi Budi Utomo sesuai dengan yang diungkapkan oleh Munir Mulkan (1990:20):

 

“Proses pengesahan pemerintah Belanda menyimpan sesuatu yang menarik. Karena untuk tertibnya Besluit berdirinya Muhammadiyah diperlukan rekomendasi Boedi Oetomo. Sementara itu Boedi Oetomo bersedia memberikan rekomendasi jika pengurus Muhammadiyah masuk menjadi anggota Boedi Oetomo”.

 

Dalam menjalankan kegiatannya, organisasi Muhammadiyah dalam tahun-tahun pertama tidaklah mengadakan pembagian tugas yang jelas kepada anggotanya. Hal ini disebabkan oleh surat ketetapan Gouvernement Besluit yang di sahkan. Kegiatan Muahmmadiyah mulai terlihat jelas pada sekitar tahun 1920 yang mana kegiatan Muhammadiyah telah meliputi seluruh Pulau Jawa dan pada tahun 1921 semakin melebarkan sayapnya keseluruh penjuru Indonesia. Penyebaran ini didasari oleh pribadi Ahmad Dahlan sendiri sebagaimana diungkapkan Deliar Noer ( 1981 : 87 ) bahwa : “ pribadi Dahlan dan caranya berpropaganda dengan memperlihatkan toleransi dan pengertian kepada pendengarnya sangat memberikan bantua untuk memperoleh sambutan yang memuaskan”. Dahlan tahun 1920 hampir seluruh Pulau Jawa cabang utama yang pertama kali berdiri adalah di Padang ( Sumatera Barat ).

 

 

B.     Berdirinya Muhammadiyah Di Kota Pematangsiantar

 

1.      Era Tahun 1990-an

 

Di Kota Pematangsiantar, usaha mendirikan Muhammadiyah sudah mulai dirintis pada tahun 1929. Usaha tersebut baru dapat terlaksana pada tanggal 27 Januari 1930. Pelopor berdirinya Muhammadiyah Pematangsiantar adalah seorang muballigh yang datang dari Tanah Jawa bernama Muaz. Beliau belum diketahui pasti apakah beliau murid dari KH Ahmad Dahlan sendiri yang datang dari Yogyakarta. Adapun pengurus pertama dari Muhammadiyah di Pematangsiantar ialah Bapak Mangkuto Sutan dan Bapak Paimo. Organisasi ini berkantor di daerah Timbang Galung dengan cara menyewa rumah.

 

Pada awal berdirinya Muhammadiyah di Kota Pematangsiantar dibentuklah majelis-majelis yang nantinya menjadi bahan pembantu dari pada organisasi Muhammadiyah. Adapun majelis-majelis yang didirikan adalah :

1.      Majelis Tarjih, majelis ini bertugas untuk mempergiat dan memperdalam ilmu Al-Qur’an guna mendapatkan kemurnian Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.

2.      Majelis Tabligh, majelis ini bertugas untuk menyampaikan dakwah Islam keseluruh pelosok Pematangsiantar dalam mengembangkan dakwah Islamiyah dan membina tempat-tempat ibadah serta meningkatkan mutu para muballigh Muhammadiyah yang diharapkan nantinya dapat mengembangkan Syiar Islam secara murni.

3.      Majelis Wakaf dan Harta Benda, majelis ini bertugas mengurus masalah harta benda milik Muhammadiyah dan penggunaannya baik kepada umum maupun kepada organisasi Muhammadiyah sendiri.

4.      Majelis Pendidikan dan Kebudayaan, Majelis ini bertugas untuk memajukan pendidikan dan memperluas kebudayaan Islam serta pengembangan ilmu pengetahuan menurut tuntunan ajaran Islam.

Dari majelis-majelis inilah nantinya sebagai pendukung keberhasilan organisasi Muhammadiyah dalam mengembangkan kegiatannya diberbagai bidang.

 

Pada periode tahun 1937-1940 di bawah pimpinan Bapak Montas Damanik bekerja sama dengan Muhammadiyah cabang Simalungun mulai bergerak mendirikan ranting – ranting Muhammadiyah yakni :

1.      Ranting Muhammadiyah Kampung Bantan dipelopori oleh Bapak Panangin Batubara.

2        Ranting Muhammadiyah Dolok Malela dipelopori oleh Bapak Umal Purba dan Bapak Jorim Purba.

3        Ranting Muhammadiyah Panei Tongah dipelopori oleh Bapak Pitta Sinaga

4        Ranting Muhammadiyah Panambean dipelopori oleh Bapak Jailam dan Bapak Railam.

 

Pada tanggal 12 Januari 1937 di rencanakan mendirikan sekola di Jalan Merdeka sebagai perwujudan dari anggaran dasar Muhammadiyah pasal 4 ayat 3 yang berbunyi “ memajukan dan memperbaharui pendidikan, pengajaran dan kebudayaan serta memperluas ilmu pengetahuan menurut tuntunan Islam “. Untuk itu dibentuklah panitia pembangunan sekolah yang susunan pengurusnya antara lain Bapak A. Marzuki, Bapak Ismail Karim, Bapak Umar, Bapak Sutan Parlaungan dan lain-lain. Namun hal ini mendapat hambatan karena situasi pada saat itu belum menentu sampai menjelang proklamasi kemerdekaan.

 

Pada Tahun 1947 mulailah didirikan madrasah yang setingkat SD. Kemudian Pada Tahun 1951 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Jamik (sekarang Masjid Taqwa) dan kemudian didirikan pendidikan tingkat SMP. Namun pada tahun 1954 SMP Muhammadiyah tutup dikarenakan oleh faktor sebagai berikut :

1.      Terjadi salah pengertian antara kepala sekolah dengan Pimpinan Muhammadiyah pengurus bidang pendidikan pengajaran.

2.      Kepala sekolah ingin bertindak sendiri tanpa mengindahkan persyaratan yang telah digariskan oleh Muhammadiyah.

 

Kemudian pada Tahun 1973 atas Prakarsa Drs. A. Jalil Noor (Alm) dihidupkan kembali lembaga pendidikan SMP dan masih berjalan hingga kini. Pada tahun 1983 Muhammadiyah Pematangsiantar membuka sekolah kejuruan SMEA ( sekarang SMK ) yamg kesemua lembaga ini berada di jalan merdeka Pematangsiantar. Pada saat ini Muhammadiyah Pematangsiantar telah mampu mendirikan sekolah-sekolah mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak sampai tingkat Sekolah Lanjutan Atas.

 

Pada Tahun 1989 Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kotamadya Pematangsiantar bekerjasama dengan pimpinan cabang kabupaten Simalungun mendirikan pondok pesantren Darul Arqam. Pendirian pondok pesantren ini tidak terlepas dari usaha yang dilakukan oleh Bapak STB Kasim yang menjadi pimpinan utamanya pada waktu itu. Sampai sekarang pondok pesantren Darul Arqam telah menjadi salah satu pondok pesantren favorit diwilayah Kotamadya Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun.

 

Sejak berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1930 sampai tahun 1968 khusus untuk kotamadya Pematangsiantar, pimpinan cabang Muhammadiyah baru mendirikan tiga buah ranting yakni, ranting Muhammadiyah Rambung Merah, Desa Baru dan Pusat Kota. Pada mulanya pembinaan anggota berpusat pada struktur cabang, namun setelah berdirinya ranting-ranting, pusat pembinaan anggota bukan lagi di cabang melainkan berpusat pada ranting. Hal ini memungkinkan untuk bertambahnya anggota pada setiap ranting. Sesuai dengan anggaran rumah tangga Muhammadiyah bahwa setiap ranting Muhammadiyah harus mempunyai minimal lima belas orang anggota dan mempunyai jemaah pengajian, yang nantinya dapat menghimpun anggotanya lebih banyak lagi.

 

Pada Tahun 1991 ranting Muhammadiyah telah berjumlah sebelas ranting. Seiring dengan pertambahan jumlah ranting, maka pada tahun 1991 diadakan musyawarah daerah ke VI Muhammadiyah Kotamadya Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun, dengan suatu keputusan bahwa pimpinan cabang Muhammadiyah Pematangsiantar dan Simalungun memisahkan diri dan membentuk pimpinan daerah masing-masing. Maka sejak tahun 1991 Pimpinan Muhammadiyah Pematangsiantar sudah berubah menjadi Pimpinan Daerah yang diketuai oleh Bapak Lukman Tarihoran.

 

 

 

 

 

 

 

 


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website